Pelajaran Hidup

manfaat-ilmu-pengetahuan-bagi-kehidupan-manusia.jpg

Waktu SD, aku suka pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Karena biasanya di buku paketnya banyak gambar tentang (pemandangan) alam, ada gunung, hutan, lautan, danau, juga gambar tentang makhluk hidup –yang mencakup manusia, hewan, dan tumbuhan–. Kayaknya suka aja gitu liat buku-buku bergambar alam.

Bab yang paling aku suka waktu itu adalah tentang Tata Surya, yaitu materi tatanan alam semesta yang terdiri atas matahari sebagai pusat peredaran sembilan planet, dan membentuk suatu gugusan fisik karena gravitasi matahari. Kadang aku suka ngebayangin, pengin ngelilingi dunia dan ngeliat bumi dari luar angkasa.

Ketika memasuki MTs, ternyata materi IPA terbagi menjadi 2 bagian, yaitu Biologi dan Fisika. Biologi membahas keadaan dan sifat makhluk hidup (manusia, hewan, dan tumbuhan) atau bisa juga disebut ilmu hayat. Sedangkan Fisika membahas tentang zat dan energi (seperti panas, cahaya, dan bunyi). Sejak saat itulah aku mulai bingung dengan materi IPA. Biologi banyak istilah-istilah susah, fisika juga ada hitung-hitungannya.

Oya, sebenernya aku juga kurang suka dengan pelajaran MTK (Matematika) atau yang ada hitung-hitungan (ribet). Aku sempet punya pikiran (menentang) dalam hati, “Buat apa belajar itung-itungan rumit, banyak rumus ini-itu, X-Y-Z, dan sebagainya. Padahal nanti yang kepake paling itung-itungngan dasar doang.”

Tapi kadang seorang guru seperti punya indra pendengaran yang kuat. Sedikit pendapat sinis tentang sebuah pelajaran dari salah satu murid/siswa (atau mungkin dari beberapa murid/siswa) bisa tercium oleh guru. Waktu itu guru matematikaku dulu di MTs (MTs NU Putra 1) dan MAN BPC (Madrasah Aliyah Negeri Buntet Pesantren Cirebon) –namanya Pak Zainal Arifin– berpendapat, “Ilmu terapan Matematika tidak hanya berguna dalam ilmu matematika itu sendiri, tapi juga buat hitung-hitungan ilmu lainnya, seperti ilmu ekonomi, fisika, akutansi, dan lain-lain. Bahkan ilmu waris juga pake matematika kan untuk bagi-bagian?”

“Adapun hitung-hitungan matematika yang rumit (rumus X-Y-Z dan semacamnya) berguna kalo nanti kalian jadi arsitek yang harus mempertimbangkan dan menghitung segala ukuran tata letak sebuah bangun ruangnya, panjang, lebar, tinggi, dan sebagainya.”

Beliau menambahkan, “Hitung-hitungan matematika juga akan kalian pake kalo nanti kalian jadi guru matematika. Karena sesungguhnya pelajaran matematika juga tidak melulu soal hitung-hitungan, tapi tentang pola pikir. Coba aja kalian perhatikan isi bab di buku matematika, pasti ada tentang pembagian, perkalian, bangun ruang, peluang, dan itu pasti berguna kalo kita udah paham.”

Guru ekonomiku di MTs, Pak Arif Yasykur juga berkata ; “Ilmu Ekonomi itu terpakai terus dalam kehidupan sehari-hari. Misal kalian beli ini-itu di sebuah toko, terus dapet diskon sekian, kembalinya sekian. Berapa banyak siklus jual-beli dalam sehari? Siklus perputaran uang juga termasuk kegiatan ekonomi kan?!”

Dipikir-pikir, bener juga ya. Semua ilmu hitung-hitungan pasti kepake di kehidupan kita.

***

 

406505297_9aa9ec3e39.jpg

Waktu di MTs, aku malah suka dengan pelajaran lain, yaitu pelajaran Bahasa Indonesia. Alasan pertama, karena gurunya baik, sabar, kalem, dan enak kalo lagi ngejelasin. Semua sifat itu menempel pada diri Pak Sholeh, yang punya ciri khas memakai peci hitam dan kaca mata kala mengajar. Nada suaranya ketika menjelaskan terdengar seperti sedang menasihati, jadi mudah dipahami. Kesannya berasa kayak kakekku sendiri.

Alasan kedua ada di dalam materi Bahasa Indonesia itu sendiri, karena menurutku materi bahasa itu unik. Setahuku, waktu di SD materi Bahasa Indonesia hanya terbatas pengenalan huruf, tanda baca, penggunaan kata (kata benda, kata kerja, kata keterangan, dsb), penggunaan kalimat (kalimat berita, kalimat tanya, kalimat perintah, dsb), dan menulis paragraf. Ternyata materi Bahasa Indonesia di MTs sudah berkembang, seperti pembahasan Makna Kata yang mencakup ; Homonim, Homofon, Homograf, dan Polisemi.

Homonim yaitu kata yang lafal dan ejaannya sama, tapi berbeda maknanya. Seperti kata bisa yang bisa berarti dapat/mampu (contoh : Aku bisa mengerjakan PR dengan mudah), dan berarti racun (contoh : Bisa ular itu berbahaya).

Homofon yaitu kata yang bunyinya sama, tapi tulisan dan maknanya berbeda. Seperti kata bang yang berarti panggilan untuk laki-laki yang lebih tua dan bank yang berarti tempat penyimpanan/menabung uang.

Homograf yaitu kata yang tulisannya sama, tapi bunyi dan maknanya berbeda. Seperti kata apel  yang berarti buah, dan apel yang berarti ucapara.

Polisemi yaitu kata yang tulisan, lafal, dan bunyinya sama, tapi punya makna lebih dari satu. Seperti kata bunga yang berarti tumbuhan (contoh : Bunga mawar itu indah sekali), dan bunga yang berarti perempuan/perawan desa yang banyak disenangi orang (contoh : Bunga desa itu sedang pergi ke pasar).

Dari materi makna kata itulah, aku jadi paham, ternyata satu kata dalam sebuah bahasa bisa bermakna beda. Dan menurutku, itu unik.

***

img_1029.jpg

Demikian pula ketika duduk di bangku kelas Bahasa di Madrasah Aliyah (Dulu namanya ; MAN Buntet Pesantren Cirebon, sekarang namanya jadi MAN 3 Cirebon), aku juga masih suka dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Di Madrasah Aliyah ini guru pengampu materi bahasa Indonesianya adalah Bu Rodiyah. Secara sifat hampir sama dengan Pak Sholeh, baik, sabar, dan kalem. Hanya usianya saja yang jauh lebih muda. Oya, satu lagi yang menjadi ciri khas Bu Rodiah adalah suka menasihati dan menyemangati anak didiknya. Mungkin karena itu sudah menjadi tanggung jawab beliau sebagai penanggung jawab kelas Bahasa. Hampir setiap pelajaran bahasa Indonesia beliau selalu menyempatkan sedikit nasihat dan menyemangati kami, apalagi menjelang ujian kelulusan.

Materi Bahasa Indonesia di jenjang Aliyah/SMA/SMK/sederajatnya juga berkembang lagi. Bahasan Makna kata berlanjut Ameliorasi, Peyorasi, Generalisasi, dan Spesifikasi.

Ameliorasi yaitu pergeseran makna baru yang lebih baik dari makna sebelumnya (dulu), seperti kata buta (dulu) dan tunanetra (sekarang). Peyorasi yaitu kata yang makna sekarang lebih buruk dari makna kata sebelumnya (dulu), seperti kata pramuniaga (dulu) dan pelayan toko (sekarang). Generalisasi yaitu perluasan makna, seperti kata Ibu (dulu; bermakna orang yang melahirkan kita, sekarang; bermakna untuk guru [perempuan] dan panggilan untuk perempuan yang lebih tua dari kita). Spesifikasi yaitu penyempitan makna, seperti kata sarjana (dulu; bermakna sebutan untuk orang pintar, sekarang; bermakna gelar untuk orang yang lulus S1).

Ada juga bahasan tentang jenis paragraf ditinjau dari segi isinya, mencakup ; narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

Narasi yaitu paragraf yang isinya menceritakan peristiwa dengan tokoh. Contoh (awal kata/kalimatnya) : “pada suatu hari…”, “hari ini….”, dst. Deskripsi yaitu paragraf yang isinya menggambarkan suatu dengan jelas/detail. Contoh (awal kata/kalimatnya) : “tas buku ini terbuat dari….”, “bunga mawar….”, “malam bulan purnama”, dst. Eksposisi yaitu paragraf yang isinya memberi informasi kepada pembaca. Contoh (awal kata/kalimatnya) : “manfaat buah kelapa yaitu….”, “fungsi organisasi masyarakat adalah….”, dst. Argumentasi yaitu paragraf yang isinya mengemukakan pendapat dengan alasan yang kuat, bisa berupa gagasan atau bukti. Contoh (awal kata/kalimatnya) : “Menurut saya….”, “Berdasarkan data yang ada….”, dst. Persuasi yaitu paragraf yang isinya mempengaruhi pembaca untuk melakukan sesutu (mengajak). Contoh (awal kata/kalimatnya) : “Marilah….”, “Ayo….”, “Hendaklah berdoa dulu sebelum ujian….”, dst.

Menurutku, bahasan Bahasa Indonesia itu unik. Ternyata sebuah kata maknanya bisa berubah, bisa meluas maknanya atau menyempit. Begitu juga materi paragraf. Ternyata dalam sebuah paragraf juga punya isi dan maksud yang berbeda-beda, tergantung konten yang dibahasnya.

“Inti dari pelajaran bahasa sebenarnya bisa diaplikasikan lewat lisan dan tulisan. Lewat lisan, seperti jadi MC, pidato, puisi. Lewat tulisan, seperti tajuk rencana, opini (artikel), cerpen bahkan novel”, kata Bu Rodiah kala itu.

Bener banget kata Bu Rodiah. Pantesan, kalo lagi ada acara atau event di sekolah, pihak sekolah sering mengontak anak bahasa untuk ngisi acaranya, entah itu jadi MC, sekedar sambutan, atau pembacaan puisi/syair. Untuk hal ini, dulu temen sekelasku yang sering aktif berbicara di kegiatan sekolah adalah Ja’far Shodiq Alalawi, M. Shohibul Anwar (ketua kelas), Khusnul Khotimah (Otim), sama Maziyatul Fikriyah (Kiki). Sedangkan aku hanya bisa menyumbang lewat tulisan artikel (opini) di mading yang sering aku titipkan (lewat) ke Kiki.

Dari sekian banyak pelajaran dari SD sampai jenjang MA, baik ilmu umum atau agama, bagiku semuanya sangat bermanfaat.

***

 

Karena dulu pas MTs dan MA aku sambil mondok, jadi aku ngga pelajaran umum saja, tapi belajar ilmu agama di Pondok Pesantren Nadwatul Ummah, Cirebon yang kala itu KH. Fuad Hasyim, MA masih jadi pengasuh, setelah beliau wafat sekarang pengasuhnya digantikan ke anaknya, KH. Abbas Biliyachsyi, MA.

29496984_542161812850574_2153711200579954105_n.jpg

Di pondok aku belajar ilmu agama, seperti fikih, akidah akhlak, tauhid, tajwid, tafsir quran, dan sebagainya. Di pondok aku juga belajar ilmu bahasa Arab, seperti Nahwu, Shorof, I’lal, dan sebagainya. Deretan para guru yang mengajar di pondok kala itu adalah ; Ustadz kembar Subhan-Sulhan, Ustadz Khudlori, Kang Ali, Kang Fikri, Kang Fathuddin, Kang Uki, Kang Aim, Kang Babas, dan guru besar lainnya. Dari sekian banyak pelajaran dan kegiatan yang menjadi ciri khas dari pesantren ini adalah pelajaran akhlak dan nahwu-shorof.

Untuk pelajaran akhlak, meskipun tak tertulis, tapi aplikasinya langsung praktik. Tiap santri yang baru masuk di pesantren ini harus mengikuti penataran, yaitu kegiatan pengenalan lingkungan pondok, tentang pengasuh, kyai, dewan asatidz-asatidzah, pengurus, serta kegiatan-kegiatan pondok. Kegiatan ini juga mencakup adab, sopan santun (kepada guru, orang tua, dan tamu), dan tata tertib pondok. Jadi, misal ada santri lama yang akhlaknya masih jelek, tahun depan bisa jadi ditatar (ikut penataran) lagi dengan santri baru.

Sedangkan pelajaran nahwu-shorof menjadi konten utama pondok karena ilmu alat (bahasa Arab) ini juga digunakan untuk ngaji kitab-kitab kuning lainnya, dan juga dipakai untuk Bahtsul Masail (Musyawarah Kubro) yang membahas berbagai pertanyaan keagamaan, dan dibahas antar kelas, maupun antar asrama.

Di pondok, awalnya aku kesulitan memahami ilmu-ilmu bahasa Arab (terutama Nahwu-Shorof). Tapi sejak kedatangan ustadz baru –namanya Kang Khudlori, beliau adalah lulusan santri Ploso, asli orang Tegal. Orangnya tegas, disiplin, dan satu hal lagi yang membuatku terkesan : cara mengajarnya di kelas berbeda–, sedikit demi sedikit aku mulai paham dengan pelajaran Nahwu (tata bahasa/gramatika bahasa Arab). (Cerita selengkapnya : Pertanyaan yang Merubah Pola Pikir).

Oya, satu lagi kegiatan khas dari pondok pesantren Nadwatul Ummah adalah Syawir/Musyawarah. Jadi, setelah kegiatan madrasah/pelajaran diniyah sejam kemudian dilanjut dengan syawir (musyawarah) bersama teman-teman kelas dirosah diniyah yang durasinya satu jam, setengah jam untuk antar kelompok, setengah jam lagi untuk yang tugas bergilir yang menjelaskan hasil musyawarahnya (secara bergilir). Hasil musyawarah bisa berupa pelajaran yang akan dibahasa besok atau pelajaran yang sudah dibahas. Menurutku, kegiatan ini cukup efektif untuk melatih kita memahami dan berbagi pemahaman pelajaran.

Salah satu ustadz di pondok pernah berkata, “Ukuran keberhasilan kita sudah paham atau belum sebuah materi pelajaran akan terlihat ketika kita bisa/mampu menjelaskan materi itu kepada teman kita, dan teman kita paham akan penjelasan kita.”

Pelajaran dan pengalaman di pondok telah mengajarkan kita banyak hal. Mulai dari pola pikir, akhlak (attitude), agama, ilmu-ilmu umum, cara pandang, pengalaman berorganisasi, dan hal-hal lainnya.

“Modal hidup yang paling utama adalah Ilmu, Amal, Akhlak dan Kejujuran.” (KH. Luthfy Elt Hakim)

***

 

Setelah lulus MA dan pesantren, aku sempat bingung menentukan pilihan jurusan di perguruan tinggi kelak. Waktu itu, aku hanya mengandalkan pelajaran yang aku suka aja, yaitu pelajaran bahasa Indonesia dan Bahasa Arab. Jadilah waktu itu pas ndaftar SPMB Mandiri di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta aku menuliskan 2 pilihan jurusan, yaitu ; pertama Pendidikan dan Sastra Indonesia, dan kedua, Pendidikan Bahasa Arab. Dan ternyata yang keterima pilihan yang kedua. Alhamdulillah, masih seputar ilmu bahasa ini, bukan matematika, pikirku.

UIN_Jakarta.jpg

Di Jurusan Pendidikan Bahasa Arab ini, aku belajar ilmu-ilmu bahasa Arab (lagi), tapi lebih banyak porsinya, seperti ; Nahwu (Pa Tibb, Bu Wati), Shorof (Pa Toto), Qiro’ah (Pa Sholah), Istima’ (Pa Mukhshon), Balaghoh (Pa Syamsul), Ilmu Aswat (Pa Mukhshon), Muthola’ah (Pa Ubaid), Muhadtsah (Pa Sayuti, salah satu dosen favorit mahasiswa, cerita selengkapnya Allah Maha Sempurna), Khat Arabiy (Pa Dardiri), Fiqh Lughoh (Pa Hidayat), Tadribat Lughowi (Pa Syamsul), Metode Pembelajaran Bahasa Arab (Pa Aziz, Pa Raswan), Tarjamah (Pa Muhbib) Tela’ah Kurikulum Bahasa Arab (Pa Zainal), dan lainnya. Ada juga ilmu agama, seperti ; Metodologi Studi Islam, Akhlak Tasawuf (Pa Shodik), Ilmu Pendidikan Islam dan Persoalan Kontemporer (Pa Zuhdi), Tafsir Hadits (Pa Anshor), dan lainnya. Di semester-semester awal aku juga belajar ilmu-ilmu umum, seperti ; Ilmu Sosial Dasar, Kewarganegaraan (Pa Suwito), Bahasa Indonesia (Bu Euis), Bahasa Inggris (Bu Dewi), Bimbingan Konseling, Statistik Pendidikan (untuk tugas akhir/skirpsi), dan pelajaran lainnya.

Secara keseluruhan, kampus UIN Jakarta ini telah mengajarkan tiga ilmu dasar, yaitu ilmu kejuruan (sesuai jurusan), ilmu agama, dan ilmu umum. Apalagi hampir semua mata kuliah memakai sistem diskusi/presentasi. Jadi, secara otomatis kita sudah dilatih menulis (makalah) dan berbicara (mengemukakan pendapat). Belum lagi pelajaran dan pengalaman dari kegiatan organisasi kampus. Lalu ada juga kegiatan PKL (Praktik Kerja Langsung) atau PPKT (Praktik Profesi Keguruan Terpadu) yang pada pelaksanaannya juga mempraktikan ilmu/pelajaran yang sudah kita pelajari (mencakup ; teori, metode pembelajaran, media pembelajaran, evaluasi, dan sebagainya).

Khusus untuk ilmu-ilmu bahasa Arab (di pondok dan di kampus) aplikasi/terapannya juga hampir sama dengan ilmu bahasa Indonesia, bisa melalui lisan (muhadatsah/kalam) maupun tulisan (kitabah). Bedanya, kalo bahasa Arab kan termasuk bahasa asing, jadi bisa untuk tarjamah. Muhadatsah/Kalam bisa diaplikasikan untuk percakapan jika emang ada totor atau penutur bahasa Arab asli, bisa pula untuk pidato bahasa Arab, debat bahasa Arab, lomba sya’ir atau puisi bahasa Arab, nyanyi bahasa Arab, dan lain-lain. Sedangkan secara kitabah/tulisan aplikasi bisa langsung terlihat untuk tugas akhir (skripsi) yang harus ditulis menggunakan bahasa Arab, bisa juga untuk mengarang/menulis artikel untuk jurnal, menulis buku, untuk kegiatan penerjemahan, notulen (hasil dari istima’/diskusi), dan sebagainya.

***

 

Hampir setiap kelulusan (entah itu sekolah SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK, Pondok, maupun Kampus), guru kelas, perwakilan sekolah, kepala sekolah, pengasuh pondok, kepala jurusan, sampai rektor (kampus) pasti ngasih wejangaan dan doa kepada semua anak didiknya, “Jaga nama baik almamater dan semoga ilmunya bisa bermanfaat!” Karena memang itulah harapan mereka. Ilmu yang telah mereka ajarkan berharap bisa diaplikasikan, diamalkan, dan bermanfaat, entah itu untuk kehidupan dalam keluarga, dunia kerja, masyarakat sekitar atau yang lainnya.

Menurutku, hakikat ilmu pengetahuan sesungguhnya adalah ketika kita sudah bisa memahami, mengaplikasikan dan mengamalkannya. Proses memahami yaitu kita sudah paham dan mengerti tentang suatu ilmu tersebut. Proses mengaplikasikan yaitu ketika kita sudah bisa latihan atau menjawab-menjawab soal seputar mata pelajaran tertentu, baik secara tulis, lisan, maupun praktik. Proses mengamalkan yaitu kita bisa mengamalkan pemahaman yang kita tahu untuk diterapkan/digunakan/dibagikan untuk kehidupan sekitar kita. Contoh mengamalkan yaitu, misal kita sudah tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu tidak baik, berarti kita harus mempraktikan dalam kehidupan nyata untuk tidak membuang sampah sembarangan (attitude/akhlak). Misal kita jadi guru, berarti kita membagikan pemahaman/ilmu kita kepada siswa (ilmu/pemahaman). Misal kita tahu bahwa puasa ramadhan itu wajib, berarti kita juga menjalankan puasa sesuai dengan syarat dan rukunnya (ibadah).

Semua pelajaran tidak hanya tentang materi deskriptif, tapi juga pola pikirnya. Kita mengerti siklus jual-beli/untung-rugi setelah tahu belajar Ekonomi. Kita mengerti hitung-hitungan (penjumlahan, pengurangan, pembagian, perkalian) dasar dari ilmu matematika. Kita belajar etika sopan santun (kepada orang atau alam sekitar) setelah belajar PPKN. Kita belajar berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain/masyarakat berkat ilmu IPS. Kita bisa tahu peristiwa-peristiwa penting di dunia setelah belajar Sejarah, dari situ pula kita bisa belajar menghormati jasa-jasa pahlawan. Kita bisa membaca, menulis, dan berbicara karena telah belajar bahasa. Kita bisa membaca dan menulis Al-Qur’an karena kita belajar BTQ (Baca Tulis Al-Qur’an). Kita tahu tata cara beribadah setelah kita belajar Agama. Kita tahu bahwa kita bisa membuat suatu karya (lukisan, anyaman, dan sebagainya) adalah setelah kita belajar seni dan keterampilan. Kita tahu cara menendang bola dengan baik dari pelajaran olahraga. Materi IPA tentang tata surya menyadarkan kita betapa kecilnya kehidupan di Bumi ini di tengah antariksa yang tanpa batas itu. Subhanallah. Allah Memang Maha Kuasa. Dan masih banyak lagi manfaat dari pelajaran-pelajaran lainnya untuk kehidupan sekitar kita.

Semua pelajaran tersebut (sekolah, pondok, atau kuliah) telah mengajarkan kita tiga hal ; pola pikir, attitude/akhlak (tingkah laku kepada Tuhan/ibadah, kepada manusia, dan alam sekitar), dan pengalaman. Semua itu adalah pelajaran hidup yang sesungguhnya, agar bisa dipahami dan dipraktekan/diamalkan untuk kehidupan sekitar kita.

***

 

Oleh : Arif Erha

@KosanSedapMalam, 24 Juni 2018

Iklan

Filosofi Mudik

IMG_1016.JPG

Yang aku tahu, mudik adalah kegiatan perantau untuk kembali ke kampung halamannya yang terjadi menjelang hari raya. Itu saja. Tapi setelah aku searching artikel di google, ternyata mudik ada sejarahnya.

Aku baca di wikipedia, kata mudik –secara etimologi– berasal dari kata “udik” yang artinya selatan/hulu. Pada saat itu di Jakarta ada wilayah yang bernama Meruya Udik, Meruya Ilir, Sukabumi Udik, Sukabumi Ilir, dan sebagainya.

Pada saat Jakarta masih bernama Batavia, suplai hasil bumi daerah kota Batavia diambil dari wilayah-wilayah di luar tembok kota di selatan. Karena itu, ada nama wilayah Jakarta yang terkait dengan tumbuhan, seperti Kebon Jeruk, Kebon Kopi, Kebon Nanas, Kemanggisan, Duren Kalibata, dan sebagainya. Para petani dan pedagang hasil bumi tersebut membawa dagannya melalui sungai. Dari situlah muncul istilah hilir-mudik, yang artinya sama dengan bolak-balik. Mudik atau menuju udik saat pulang dari kota kembali ke ladangnya, begitu terus secara berulang kali.
(Sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Mudik)

Kini, kata mudik di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti pulang ke kampung halaman. Dengan kata lain mudik berarti kegiatan pulang kampung bagi para perantau/pekerja migran menjelang hari raya. Mudik seperti sudah menjadi tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan, seperti menjelang lebaran (Idul Fitri). Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak-saudara yang tersebar di perantauan, dan tentunya juga sowan dengan orang tua. Biasanya mudik menggunakan transportasi ; pesawat terbang, kapal laut, bus, truk, mobil pribadi, atau sepeda motor.

***

 

Sebagai perantau, hampir tiap tahun menjelang lebaran pun aku mudik untuk pulang ke kampung halaman, ke Brebes. Biasanya kalo pulang kampung dalam jangka pendek (2-3 hari) aku naik bus. Tapi kalo pulang kampung dalam jangka panjang (seminggu lebih) seringnya aku naik motor konvoi bareng-bareng temen seperantauan yang berasal dari Jawa Tengah. Tapi pernah juga naik mobil pribadi diajak saudara.

IMG_1024.JPG

Jarak Jakarta-Brebes mencapai 324 KM. Aku pernah ngitung jarak tersebut ketika aku mudik pake motor. Jadi aku foto speedometer sebelum berangkat dan setelah nyampe kampung, atau sebaliknya. Menurutku jarak segitu terhitung cukup sedang, karena Brebes masih deket (daerah Jawa Tengah) daripada yang lebih jauh dari itu. Waktu perjalanan paling cepet 6-8 jam kalo ngga macet, pake bus atau mobil pribadi. Tapi kalo pake motor bisa sampe 8-12 jam, tergantung keadaan jalan macet/engganya. Tahun ini (2018), aku kembali mudik lagi pake motor bareng temen-temen perantauan yang sama-sama dari Brebes. Pun demikian ketika mudik balik ke Jakarta juga naik motor bareng temen-temen (Kiki, Dedi, Aleh, dkk).

Ketika sedang dalam perjalanan mudik pulang kampung kadang aku suka mikir hal-hal yang berbau kampung, misalnya ; “Nanti pas aku di rumah, bakal ngapain aja ya?”, “Ada yang beda ngga ya di kampungku?”, “Nanti bakal jalan-jalan kemana ya setelah lebaran?”, “Ngga sabar nih, kangen masakan Mama.”, “Semoga nanti aku bisa main ke rumahnya.”, dan pikiran-pikiran lainnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut pun terjawab dengan sendirinya ketika kita telah melakukan aktivitas di kampung.

Demikian pula ketika sedang perjalan mudik balik ke Jakarta, kadang aku pun suka mikir hal-hal yang telah berlalu (kesan) dari kampung, atau pikiran aktivitas yang akan kembali dijalani di tanah perantauan, seperti : “Kemarin terkesan banget liburan ke hutan mangrove Brebes bersama saudara.” “Duh, cepet banget ya liburannya.” “Lusa udah kembali kerja lagi aja.”, “Pulang kampungnya bakal lama lagi nih, kecuali kalo ada libur panjang.”, “Semoga pulang kampung berikutnya sudah bisa ngajak calon mantu ketemu orang tua. (Eh, amin)”, dan pikiran-pikiran lainnya.

Sebenernya pikiran-pikiran tadi hanya muncul sekilas ketika jalanan jalanan rada lenggang, atau ketika sedang macet, atau pas lagi istirahat. Anggap saja intermezo. Pikiran utama pengemudi ya harus tetap fokus pada jalanan, iya kan? Apalagi aku ngendarain motornya sendirian, ngga ada yang buat gantian.

Pikiran utama pengendara motor fokusnya ya ke jalanan. Memperhatikan dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas, ngendarain dengan kecepatan sekian, mengira-ngira jarak nyalip yang cukup, sering liat kaca spion kalo mau nyalip, liat indikator bensin juga barangkali udah mau habis, dan pikiran fokus yang lainnya.

img_1089.png

Tapi kadang yang namanya manusia kalo mikir kadang suka ngga terbatas. Misal di jalan ada kecelakaan, pikiran kita pun jadi ikut waspada. Ketika di jalan nemuin pemudik yang unik, misal di belakang motor ditulisin : “Maaf Bapak-Mama, tahun ini saya cuma bawa oleh-oleh, belum bisa bawa calon mantu.” Ada juga pemudik yang ngeboncengin boneka gede yang diiket dengan tubuh pengendaranya, belakangnya ada tulisan “Biar ngga keliatan jomblonya.” Hahaha. Ya kan otomatis, sefokus-fokusnya kita pada jalanan pasti akan sedikit teralihkan dengan hal yang unik itu atau hal-hal lainnya. Bahkan, ide menulis artikel ini sempat aku pikirkan ketika sedang perjalanan balik ke Jakarta. Apapun pikiran-pikiran kita yang ada di jalan, setidaknya kita harus bisa tetap fokus, supaya bisa selamat sampai tujuan.

***

 

Dari ide iseng tersebut, akhirnya aku jadi emang (beneran) mikir ; bahwa mudik bukan sekedar perjalanan dari tanah rantau ke kampung halaman, atau sebaliknya. Tapi mudik juga merupakan proses bolak-balik, yang dari perjalanan tersebut kita dapat banyak pengalaman. Jadi, menurutku mudik punya makna filosofis. Lalu, apa saja makna filosofi dari (pengalaman) mudik tersebut?

Persiapan. Sebelum mudik, pastikan kita sudah mempunyai segala persiapan yang matang. Persiapan meliputi ; fisik, kendaraan, barang bawaan, bekal perjalanan, dll. Persiapan fisik berarti kita harus menyiapkan kondisi badan kita, bahwa kita akan melakukan perjalanan jarak jauh, jadi kondisi tubuh harus optimal, apalagi kalo nyetir/ngendarain sendiri. Persiapkan kendaraan pribadi kita dalam kondisi prima, mulai dari cek ban, kampas rem, lampu, spion, atau bila perlu service dan ganti oli terlebih dahulu, supaya semuanya aman. Bila perlu, bawa juga bensin pake aqua botol gede, barangkali buat cadangan kalo pom bensin lagi penuh. Persiapkan barang bawaan, bawa yang penting-penting aja, yang sekiranya muat dibawa, ngga usah banyak-banyak. Persiapkan bekal perjalanan seperti ; ongkos (paling utama), makan/minuman ringan yang sedia ketika kita makan/minum di kala istirahat, bila perlu kita juga bawa obat sachet seperti tolak-angin atau antangin buat jaga-jaga. Untuk bekal, bila perlu bawa juga power bank untuk ngecharge HP ketika udah lowbat. Setelah

Perkiraan. Ketika mudik, kita juga harus memperkirakan beberapa hal, meliputi ; perkiraan kapan kita berangkat, perkiraan jalur yang ditempuh, perkiraan jarak tempuh, perkiraan untuk nyalip, perkiraan untuk istirahat, dan perkiraan-perkiraan lainnya.

Taat. Selama perjalanan mudik, kita juga harus mematuhi rambu lalu lintas, membaca petunjuk jalan, taat berkendara, dan taat untuk ibadah. Bapakku pernah berpesan, “Kalo mudik pake kendaraan pribadi usahakan tiap datang waktu sholat segeralah istirahat di musholla atau masjid. Sholat itu wajib. Jangan jadikan jarak tempuh sebagai rukhshoh. Kalo kendaraan pribadi, mobil atau motor kan bisa kapan saja menepi atau istirahat untuk sholat. Beda halnya kalo yang naik kendaraan umum (pesawat, bus, kereta, kapal laut, dan transportasi umum lainnya) yang hanya berhenti di tempat tertentu.”

Tertib. Selama perjalanan mudik, kita juga harus tertib dalam berbagai hal, tertib saat berkendara (mematuhi lalu lintas), tertib/ngantri ; misalnya saat masuk tol, antri ngisi BBM, antri ke toilet, tertib parkir, dan tertib pada hal-hal lainnya.

Sabar. Perjalanan mudik sebenarnya juga mengajarkan kita kesabaran. Sabar ketika cuaca panas/hujan, sabar ketika kondisi jalan banyak lubang, sabar ketika kondisi jalanan macet, sabar ketika masuk tol (khusus kendaraan roda empat ke atas), ngantri BBM, ke toilet, sabar nungguin temen yang mudik bareng barangkali ada yang ketinggalan, sabar nungguin lampu merah, dan sabar akan hal lainnya.

Menemukan Hal Baru. Proses perjalanan mudik juga banyak memberikan kita hal-hal yang baru. Secara, mudik biasanya kan setahun sekali, pasti dalam rentang setahun kemudian ada hal yang baru yang kita temui. Misal, tahun ini jarak tol cuma ada dari kota ini sampai kota ini. Setahun kemudian jarak tol pun diperpanjang dari kota ini menjadi kota itu. Dari perjalanan mudik, kita juga jadi tahu kondisi jalanan yang sering kita lalui. Misal, tahun lalu kondisi jalan Kalimalang masih padet dan macet karena masih ada pembangunan tol, dan tahun ini kondisi jalan Kalimalang cukup ramai lancar, karena sebagian pembangunan jalan sudah selesai. Dari perjalanan mudik, kita juga tahu titik-titik untuk istirahat yang pas, yang bisa disesuaikan dengan waktu sholat. Dari perjalan mudik, kita juga tahu ternyata kita bisa melewati jalan alternatif untuk tetap bisa mencapai tujuan. Dari perjalan mudik, kita juga bisa tahu makanan/kuliner/oleh-oleh khas di daerah sekitar. Misal, kita sedang melewati kota Indramayu, di situ pasti ada yang jualan mangga. Saat kita melewati Cirebon, banyak pula kita jumpai warung Empal Gentong. Saat kita melewati daerah Brebes, pasti di pinggiran jalan banyak yang menjual oleh-oleh khas Brebes, seperti bawang dan telur asin. Dari perjalan mudik kita juga menemukan pemandangan daerah, seperti Indramayu yang ikonik dengan pemandangan pantai Eretan. Dan proses penemuan hal-hal lainnya.

Jodoh? Jika jodoh (boleh) diibaratkan dengan tujuan, maka proses perjalanan adalah proses untuk memperbaiki dan mempersiapkan diri untuk mencapai tujuan itu (jodoh).

***

 

Oleh : Arif Erha

@KosanSedapMalam

21 Juni 2018

 

Hichki

Hichki.jpg

Detail Film

Judul : Hichki

Genre : Drama, Komedi

Sutradara : Siddharth Malhotra

Produser : Maneesh Sharma, Aditya Chopra

Penulis Skenario : Sidharth P Malhotra, Anckur Chaudhry Anckur, Chaudhry, Ambar Hadap, Ganesh Pandit

Produksi : Yash Raj Film

Pemeran : Rani Mukerji, Harsh Mayar, Sparsh Khanchandani, Supriya Pilgaonkar, Neeraj Kabi, Asif Basra, Shivkumar Subramaniam, Hussain Dalal, Sachin Pilgaonkar, Ivan Sylvester Rodrigues, Vikram Gokhale

Negara : India

Bahasa : Hindi

Tanggal Rilis : 23 Februari 2018, 23 Maret 2018 (Indonesia)

***

 

Sinopsis

667037-666410-hichki-rani-mukerji-class.jpg

Film ini bercerita tentang Naina Mathur (Rani Mukerji), seorang wanita yang sejak kecil hingga dewasa menderita Syndrome Tourette. Syndrome Tourette adalah gangguan sistem saraf yang menyebabkan gerakan berulang atau suara yang tidak diinginkan (cegukan mendadak, dan berulang) dalam kondisi tertentu. Meskipun mengidap syndrome tersebut Naina tetap berusaha mewujudkan cita-citanya menjadi guru.

Setelah sekian banyak lamaran kerja ia kirim, lalu interview (wawancara kerja) dan banyak penolakan, akhirnya ia mendapatkan pekerjaan impiannya sebagai guru di salah satu sekolah paling elit di kota, St. Notker’s High School.

Namun, ia segera menyadari bahwa kelas yang ditugaskan kepadanya terdiri dari siswa pemberontak dan bandel, yang kebanyakan orang tuanya berekonomi sangat rendah dan dalam pergolakan masalah. Padahal Naina masih melihat masih ada harapan di mata murid-muridnya.

Dengan kesabaran dan berbagai metode (cara) yang unik pun ia coba terapkan untuk mengajar di kelas. Tapi kelemahannya (syndrome tourette) tak bisa dihindari. Ia harus bisa beradaptasi dengan murid-muridnya yang nakal dan bandel itu.

Berhasilkah Guru Naina merubah sifat kenakalan mereka menjadi positif di tengah syndrome tourette yang juga merupakan kelemahan dirinya?

***

 

Apa saja pesan/nilai positif yang tersirat di film (Hichki) ini?

Siapapun Bisa Menjadi Guru

Ketika Naina melamar kerja di berbagai sekolah, kebanyakan sekolah menolaknya karena mereka (pihak sekolah) beranggapan guru tidak seharusnya punya kekurangan fisik/syndrome. Namun, Naina mencoba menjelaskan apa itu syndrome tourette kepada pihak sekolah supaya tahu. Tapi mereka tetap kekeh beralasan bahwa syndrome dapat mengganggu aktivitas belajar. Akhirnya, Naina pun menyindir pihak sekolah sembari keluar ruangan.

Naina : “Pak, bolehkan saya bertanya kepada anda-anda sekalian?”

Pihak Sekolah  : “Ya”

Naina : “Apakah Anda semua mengetahui tentang Tourret sebelumnya?”

Pihak Sekolah : “Tidak, tidak sama sekali.”

Naina : “Lalu sekarang?”

Pihak Sekolah : “Baiklah, sekarang kami sudah tahu.”

Naina : “Jika saya bisa mengajarkan sesuatu yang baru kepada anda-anda semua, saya yakin bahwa saya pun akan mampu menangani para siswa [mengajar].”

 

Jadikan Kelemahan sebagai Kelebihan

IMG_1007.JPG

“Touret memang mempengaruhi cara bicaraku (cegukan), tapi bukan kecerdasanku.” (Naina Mathur)

 

Tidak Semua Cita-Cita Bisa Diukur dengan Uang

Ayah : “Berapa besar gaji seorang guru?”

Naina : “Yah, apa kau punya guru favorit di sekolah atau kampus?”

Ayah : “Tentu”

Naina : “Kau ingat gajinya?”

Ayah : (Diam, tak bisa menjawab)

Naina : “Oke, lupakanlah. Kau takkan pernah mengerti.”

 

Hormati dan Hargailah Kekurangan Orang Lain Sebagaimana Mestinya

Ketika Naina masih kecil, ia sering ditertawakan sama teman-teman sekelasnya karena syndrome tourrette tersebut, sebagian guru juga pernah mengusirnya, bahkan ia juga sering pindah-pindah sekolah (dikeluarkan) karena kelemahan syndrome itu. Hanya Mr. Khan lah, yang dapat mengerti kekurangan siswanya.

Mr. Khan : “Katakan, apa yang bisa kami bantu untukmu? Bagaimana cara agar kami bisa membantumu?”

Naina : “Perlakukan aku seperti murid lainnya. Itu saja Pak.”

Mr. Khan : “Oke. Di sekolah ini, tiap orang datang ke sini untuk belajar. Dan hari ini kau sudah mengajari kami sesuatu (tentang syndrome tourrete). Atas nama St. Notker, aku berjanji kami akan memperlakukanmu seperti murid lainnya.”

 

Tiga Macam Guru

hichki-7.jpg

“Seorang guru biasa hanya mengajarimu. Seorang guru yang baik akan membuatmu mengerti. Tapi guru yang hebat adalah dia akan menunjukkan cara menerapkan ilmu yang dipelajarinya.” (Naina Mathur)

 

Belajar di Mana Saja dan Kapan Saja

451861817.jpg

“Belajar tidak hanya di kelas atau jam sekolah. Jadi kapan pun kau membutuhkan Ibu, ini nomor Ibu [telpon].” (Naina Mathur)

 

Mengajar dengan Praktik

Ketika kebanyakan guru lain di sekolah  mengajar hanya dengan materi, Bu Naina mencoba metode belajar praktik langsung. Sesekali Bu Naina mengajak murid-muridnya belajar di halaman sekolah. Suatu hari Bu Naina membawa telur matang, lalu ia mengabsen satu-satu murid sambil melempar telur itu pada nama murid yang diabsen, dengan tujuan murid itu dapat menangkap telur tersebut.

“Telur tadi bisa melayang kemana-mana, tapi kalian semua berhasil menangkapnya. Secara matematis lintasan si telur dinamakan lintasan bujur atau garis lengkung. Kalian bisa menangkap telur tanpa tau apa rumus matematikanya, tapi kalian sudah mampu mengukur dan menerapkan matematika.” (Naina Mathur)

 

Membuang Rasa Takut

“Kalau kalian semua kutanyai, aku yakin kalian semua mahir. Tapi ada satu hal lagi keahlian yang kalian miliki. Yaitu menyalahkan keadaan.” (Naina Mathur)

“Buka halaman terakhir buku kalian, pikirkan selama 10 menit, hal apa yang kalian takutkan, hal yang paling kalian benci dari diri kalian. Tulislah di halaman itu.” (Naina Mathur)

“Kisah hidup kalian yang penuh rasa takut akan terperangkap di kertas ini [disobek dan dijadikan pesawat kertas]. Itu pun jika kalian menerima kenyataan ini. Hari ini, mereka akan terbang bersama angin dan sayap-sayapnya. Mulai hari ini, rasa takut ini adalah kekuatan kalian, bukan kelemahan! Lepaskan kertas itu [pesawat kertas], dan kalian akan terbang bersamanya.” (Naina Mathur)

 

Guru dan Murid

“Selama 20 tahun mengajar aku baru mengerti, ada hal yang lebih sulit daripada menjadi guru, yaitu menjadi murid. Jika murid salah mempelajari sesuatu, Dia akan kehilangan nilainya dan tak lulus. Tapi jika seorang guru salah mengajar guru tidak mendapat nilai jelek. Mengajar itu mudah. Belajar itu yang susah.”  (Mr. Wadia)

***

 

Semoga bermanfaat!

***

 

@KampungBrebes, 11 Juni 2018

Oleh : Arif Erha

 

 

 

 

Bukan!

danbo-galau.jpg

Aku bukan seperti yang kamu kira

Yang terlihat bahagia, padahal sebenernya sedang sedih dalam hati

Yang terlihat senang, padahal sebenernya sedang gundah dalam hati

Yang terlihat tenang, padahal sebenernya sedang bergulat dengan masalahku sendiri

 

Aku bukan seperti yang kamu kira

Yang terlihat berjaya, padahal sebenernya sedang berusaha menata hati

Yang terlihat nyaman, padahal sebenernya sedang gelisah dalam hati

Yang terlihat merdeka, padahal sebenernya sedang tersiksa hati ini

 

Aku bukan seperti yang kamu kira

Yang terlihat baik, padahal mungkin aku pernah menyakitimu

Yang terlihat setia, padahal mungkin aku pernah mengecewakanmu

Yang terlihat tulus, padahal kadang-kadang aku juga mengharapkan imbalan belas kasihanmu

 

Bukan!

Aku bukan seperti yang kamu kira

Aku hanya menusia biasa yang penuh luka dan cerita

Aku hanya manusia biasa yang penuh khilaf dan berdosa

 

Aku takut kamu meragu

Aku takut kamu mulai bosan kepadaku

Aku takut kamu menjauh dariku

 

Maafkan aku

Izinkanlah aku merubah sikapku

Demi menebus segala kesalahanku

Agar bisa lebih baik untukmu

***

 

Oleh : Arif Erha

@KosanSedapMalam

Jumat Dini Hari, 13 April 2018

Three Billboards Outside Ebbing Missouri

sinopsis-three-billboards-outside-ebbin-57b8fa.jpg

Detail Film

Judul : Three Billboards Outside Ebbing Missouri

Genre : Drama, Komedi, Kriminal

Sutradara : Martin McDonagh

Produser : Graham Broadbent, Peter Czernin, Martin McDonagh

Skenario : Martin McDonagh

Pemeran : Frances McDormand, Woody Harrelson, Sam Rockwell, John Hawkes, Peter Dinklage

Musik : Carter Burwell

Sinematografi : Ben Davis

Penyunting : Jon Gregory

Perusahaan Produksi : Fox Searchlight Pictures, Film4 Production, Blueprint Pictures, Cutting Edge Group

Distributor : Fox Searchlight Pictures

Tanggal Rilis : 4 September 2017 (Vestival Film Vanesia), 10 November 2017 (terbatas di Amerika Serikat), 1 Desember 2017 (secara luas di Amerika Serikat, 12 Januari 2018 (Britania Raya)

Durasi : 115 menit

Negara : Amerika Serikat, Britania Raya

Bahasa : Inggris

Anggaran : $12juta

Pendapatan kotor : $144,623,490

(Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Three_Billboards_Outside_Ebbing,_Missouri)

***

 

Sinopsis :

Three_Billboards_Outside_Ebbing_Missouri_3.jpg

Film ini menceritakan seorang ibu tunggal, Mildred Hayes (Frances McDormand) yang masih berduka atas pemerkosaan dan pembunuhan terhadap putrinya yang masih remaja, Angela (Kathryn Newton). Hal inilah yang membuat dirinya menyewa tiga papan reklame yang sudah usang di dekat rumahnya. Ini dilakukannya karena rasa marahnya karena tidak ada perkembangan dalam penyelidikan tentang kasus sang putri.

Tiga papan reklame itu bertuliskan : Raped While Dying (Diperkosa saat sekarat), And Still No arrests? (Dan pelaku masih belum tertangkap?), How come, Chief Willoughby? (Bagaimana bisa, Kapol Willoughby?). Warga kota merasa terganggu dan marah atas isi papan reklame tersebut. Isi papan reklame tersebut juga tak luput dari perhatian Sherif Bill Willoughby (Woody Harrelson) dan Opsir Jason Dixon (Sam Rockwell). Namun, Mildred mendengar kabar bahwa Willoughby menderita kanker pankreas stadium akhir. Alasan ini pulalah yang membuat warga mencemooh bahkan mengancam Mildred dan putranya, Robbie (Lucal Hedges) atas tindakan mereka tersebut.

Banyak konflik yang Mildred hadapi demi mendapatkan jawaban atas kematian putrinya. Begitu juga saat Mildred mendengar kabar bahwa Willoughby bunuh diri, hal ini makin membuat ia dibenci oleh warga.

Film yang disutradarai oleh Martin McDonagh ini masuk dalam nominasi ajang perfilman. Salah satunya menempati nominasi untuk kategori Best Motion Picture. Sang sutradara, Martin McDonagh pun juga mendapatkan nominasi untuk kategori Best Director dan Best Screenplay.

Scoring untuk film THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI oleh Carter Burwell juga tak luput dari perhatian dan mendapatkan nominasi untuk kategori Best Original Score.

Akankah Mildred berhasil memecahkan kasus dan menemukan siapa pemerkosan dan pembunuh putrinya?

***

 

Apa saja pesan/nilai positif yang tersirat dalam film ini?

Bebas tapi Tahu Aturan

“Apa saja yang boleh dan tak boleh kumutat pada reklame? Yang aku tahu, tak boleh memfitnah, dan mengumpat seperti ; ‘persetan’, ‘bajingan’, atau ‘jalang’, benar?” (Mildred Hayes)

 

Jangan Menghakimi Orang sebelum Mengoreksi Diri Sendiri

Chief Dixon : “Aku bisa saja menangkapmu, kalau mau”.

Petugas Reklame : “Atas tuduhan apa?”

Chief Dixon : “Membuang isi embermu, itu melanggar, kau mencemari lingkungan.”

Petugas Reklame : “Sebelum kau lakukan itu, petugas Dixon, bagaimana jika kau lihat dulu papan rekllame pertama di sana, setelah itu baru kita bicara tentang lingkungan.”

three-bilboards.jpg

Tiga papan reklame itu bertuliskan : Raped While Dying (Diperkosa saat sekarat), And Still No arrests? (Dan pelaku masih belum tertangkap?), How come, Chief Willoughby? (Bagaimana bisa, Kapol Willoughby?)

 

Jangan Salah Menduga, Kecuali Ada Bukti

Chief Cedric : Kenapa masih memperkerjakan dia (Dixon)?

Chief Bill : Sebenarnya dia baik hati.

Chief Cedric : Dia menyiksa orang di tahanan, Bill.

Chief Bill : Tidak ada, kecuali ada bukti nyata yang membenarkan itu.

 

Papan Reklame sebagai Media Penyampai Keluhan Masyarakat

121501.jpg

Reporter : Mildred Hayes, kenapa kau memasang reklame itu?

Mildred Hayes : Putriku Angela, diculik, diperkosa, dan dibunuh tujuh bulan lalu, tepat di jalan ini. Sepertinya kepolisian lokal terlalu sibuk menyiksa orang kulit hitam daripada menyelesaikan kejahatan yang sebenarnya. Kupikir papan reklame ini bisa sedikit memusatkan pikiran mereka. Jujur, aku tak tahu apa yang para polisi ini kerjakan. Yang kutahu, jasad putriku yang dibakar terkubur sedalam dua meter, sementara mereka makan camilan dan menangkap anak-anak yang bermain papan luncur di tempat parkir.

Reporter : Lalu kenapa ditujukan kepada Kapol Willoughby?

Mildred Hayes : Dia pemimpin mereka, kan? Harus ada yang bertanggung jawab.

Reporter : Willoughby yang bertanggung jawab?

Mildred Hayes : Ya, tentu saja.

 

Jangan Buang Waktu

Chief Bill : Kurasa memasang reklame itu tidaklah adil.

Mildred Hayes : Saat kau membuang waktumu kemari untuk mengeluh mungkin ada gadis lain yang sedang dibunuh sekarang. Tapi kuakui, kau totalitas berfokus pada satu hal.

 

Banyak Peluang Memecahkan Kasus

Charlie (Mantan Suami Mildred) : Apa yang terjadi di sini? Apa maksudnya memamasang reklame itu?

Mildred Hayes : Sudah cukup jelas, bukan?

Charlie: Aku mau kau jelaskan kepadaku.

Mildred Hayes : Aku hanya ingin beberapa orang berfokus pada pekerjaannya. Sudah tujuh bulan aku tak mendengar laporan dari mereka. Tapi aku menerima banyak laporan setelah kupasang reklame itu.

Charlie: Pikirmu, ini memfokuskan pikiran mereka? Kuberi tahu, itu memfokuskan pikiran mereka pada cara untuk mengacaukanmu.

Mildred Hayes : Semakin besar kau mengungkap kasus kepada publik, semakin besar peluang untuk memecahkannya. Semua ada di buku panduan.

 

Dampak Negatif?

Reporter : “Tampaknya luka tembak adalah penyebab kematian Kapol Willoughby (bunuh diri), seorang pria yang sangat dihormati di Ebbing atas ketekunan dan pengabdiannya kepada masyarakat. Apa pemicu keputusannya untuk mengakhiri hidup? Masih terlalu dini untuk berspekulasi. Ada rumor terkait penyakitnya, atau bisa jadi karena tekanan pekerjaan. Atau mungkin ada kaitannya dengan berita yang ramai dua minggu lalu, mengenai papan reklame, dan wanita yang memasangnya, Mildred Hayes.”
Kepedulian

Three-Billboards-Ebbing-Missouri-swing.jpg

Pertama, aku ingin minta maaf karena meninggal sebelum menangkap pembunuh putrimu. Aku sedih sekali dan hatiku terluka karena pikirmu aku tak peduli, padahal aku peduli. Ada beberapa kasus yang tak berhasil dipecahkan, lalu lima tahun kemudian ada orang mendengar orang lain mengoceh tentang kasus itu di bar atau sel penjara dan kasusnya selesai hanya karena kebodohan. Kuharap itu yang akan terjadi dengan kasus Angela, sungguh. Yang kedua, kuakui Mildred, memasang reklame itu adalah ide bagus. Itu seperti langkah catur. Meski itu tak ada kaitannya dengan kematianku, aku yakin warga kota akan berpikir sebaliknya. Karena itu, untuk membalasnya, kuputuskan untuk membayar biaya sewa bulan berikutnya. Pikirku itu akan lucu. Kau harus mempertahankannya sebulan lagi setelah menyebabkan kematianku. Kau yang tanggung, Mildred. Kuharap itu tak membunuhmu. Semoga beruntung untuk itu dan untuk segalanya. Aku berharap dan berdoa kau bisa menangkap pelakunya.” (Surat Bill sebelum meninggal untuk Mildred)

 

Bekerjalah dengan Rasa Cinta

rockwell.jpg

“Jason, ini Willoughby. Aku sudah meninggal sekarang, maaf soal itu. Ada yang ingin kukatakan kepadamu yang tak pernah kukatakan selagi hidup. Menurutku kau punya bakat menjadi polisi yang sangat baik, Jason. Dan kau tahu kenapa? Karena jauh di lubuk hatimu, kau orang yang baik. Aku tahu pikirmu aku mengada-ada, tapi tidak, bodoh. Aku juga tahu kau sangat marah. Aku juga tahu sejak ayahmu meninggal kau harus merawat ibumu. Tapi selama kau terus memendam kebencian, maka kurasa kau takkan pernah bisa menjadi sosok yang kauinginkan. Seorang detektif. Kau tahu apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang detektif? Dan aku tahu kau akan mengernyit saat aku mengatakan ini, tapi yang kaubutuhkan untuk menjadi seorang detektif adalah cinta. Karena melalui cinta, datanglah ketenangan. Dan melalui ketenangan, datanglah pemikiran. Dan kau butuh pemikiran untuk menemukan sesuatu, Jason. Hanya itu yang kaubutuhkan. Bahkan kau tak butuh pistol. Dan tentunya tak butuh kebencian. Kebencian takkan pernah bisa menyelesaikan apa pun. Namun ketenangan bisa. Pemikiran pun bisa. Cobalah. Cobalah hanya untuk sebuah perubahan. Takkan ada yang menganggap kau homo. Kalau pun ada, tangkap mereka atas tuduhan homofobia.  Mereka akan terkejut.  Semoga beruntung, Jason. Kau orang baik, hanya saja kau mengalami nasib buruk. Tapi semuanya akan berubah bagimu. Aku bisa merasakannya.” (Surat Bill sebelum meninggal untuk Chief Jason Dixon)

 

Jangan Putus Harapan

Dixon : Aku tak mau kau terlalu berharap, tapi ada seorang pria. Kurasa dia pelakunya. Aku dapat DNA-nya.

Mildred : Banyak?

Dixon : Mereka sedang memeriksanya

Mildred : Dia di penjara?

Dixon : Tidak, tapi dia takkan sulit ditemukan.

Mildred : Kenapa menurutmu dia pelakunya?

Dixon : Kudengar ocehannya tentang perbuatannya ke seorang gadis pada pertengahan tahun lalu. Aku tak mendengar secara utuh, tapi itu sangat mirip dengan yang menimpa Angela. Kemudian dia menghajarku. Tapi berkat itu aku dapat banyak DNA-nya (dengan mencakar mukanya). Jadi aku ingin memberitahumu secepatnya. Aku tak mau kau putus harapan.

 

Teruslah Berusaha

“Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha, seperti kata Ibuku. Dulu nilai bahasa Inggrisku tak terlalu bagus di sekolah. Pikirku, ‘Yang bisa kulakukan hanyalah berusaha, dan tidak terlalu bodoh di pelajaran bahasa Inggris.’ Karena kau harus menguasainya jika ingin menjadi polisi. Jika ingin jadi apa pun, sebenarnya.” (Dixon)

***

 

Kesimpulan :

Film ini memberi tahu kita bahwa tulisan di papan reklame bisa mempengaruhi pikiran banyak orang, entah itu dampak negatif dan positif (semoga poin ini lebih banyak pengaruhnya), tergantung bagaimana masyarakat sekitar menilainya. Apapun dampaknya, tulisan di papan reklame adalah bagian dari media penyampai aspirasi/keluhan masyarakat. Dari sebuah tulisan di papan reklame itu menyadarkan kita akan adanya suatu hal yang penting, sebuah peringatan agar kita bisa peka terhadap masalah sekitar, dan kita dituntut untuk bisa memahami pesan yang tersirat di balik tulisan di papan reklame tersebut.

***

 

Oleh : Arif Erha

@BimbelGaneshaKnowledge, 26 Maret 2018

 

Manfaat dan Pentingnya Terjemah dalam Kehidupan Sehari-Hari

6c268007d6ec078b38409dd152069bd3.jpeg

Di era modern sekarang ini kita tidak bisa mengecualikan adanya bahasa asing yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Entah itu sebuah kata atau kalimat yang kita dengar dari televisi (berita), film, lagu, maupun deretan teks atau kutipan bahasa asing yang kita  temui dalam literatur (buku, koran, majalah, dll). Bahkan, ketika kita sedang menggunakan laptop atau gadget pun kita sebenarnya kita sedang berhadapan dengan beberapa istilah asing.

Katakanlah, mungkin Bahasa Asing yang sering kita jumpai dalam sehari-hari adalah bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Lihat saja bahasa perangkatnya yang sebagian menggunakan Bahasa Inggris. Kata-kata seperti : Log in, shut down, stand by, restart, options, setting, insert, wallpaper mungkin terdengar familiar. Sedangkan Bahasa Arab  mungkin kita dengar dari suara adzan, pengajian ayat-ayat Al-Qur’an atau Hadits, dan kita jumpai pula ketika kita sedang membaca Al-Qur’an atau Hadits serta literatur-literatur bahasa Arab lainnya.

Tak hanya dalam media atau literatur saja, kadang kita juga menjumpai bahasa asing di papan reklame, iklan, slogan, atau mendengar dari turis langsung. Lalu, apakah kita paham dengan kata-kata bahasa asing tersebut? Mungkin kalau kata-katanya pendek seperti yang sering kita temui di laptop, gadget, atau media sosial kita tahu artinya karena terbantu dengan ikon/logo/gambar yang sekiranya bisa mewakili dan memberi makna kata-kata tersebut. Seperti ; kata setting yang berlogo obeng/kunci Inggris, kata message yang bergambar surat/amplop, kata search yang berlogo kaca pembesar/luv, dan kata serta logo lainnya.

Bagaimana jika kata-kata Bahasa Asing itu berbentuk kalimat dan berderet-deret seperti susunan paragraf di surat kabar, buku, atau sebuah dokumen lainnya? Apakah kita bisa mengerti dan paham maksudnya? Untuk itulah dibutuhkan terjemah untuk memahami arti dan maknanya.

Tapi ingat, meskipun sekarang banyak alat/media untuk menerjemahkan seperti google translate, aplikasi kamus di gadget/android, atau pun kamus itu tidak menjamin 100% hasilnya benar. Karena google translate hanya memberikan makna perkata saja.  Sedangkan kamus hanya menyajikan beberapa makna tanpa disandingkan dengan konteks kata/kalimat yang berbeda.

Yang dimaksud penerjemahan di sini adalah bukan memindahkan struktur bahasa Asing ke bahasa Sasaran (bahasa yang kita pahami, atau ke bahasa yang dikehendaki), melainkan proses pemindahan makna dan arti bahasa Asing ke dalam bahasa Sasaran yang dapat dipahami tanpa merubah konteks aslinya. Proses menerjemahkan inilah yang sering dikerjakan oleh para penerjemah profesional untuk membantu mentransfer makna dari bahasa Asing ke bahasa Sasaran yang relevan. Apalagi jika penerjemah ini mempunyai lisensi dan pengalaman yang baik dalam mengurus proses menerjemahkan naskah, dokumen, atau file untuk berbagai keperluan lainnya.

Maka, peran penerjemah sangatlah penting dalam membantu dan memudahkan kita dalam menerjemahkan bahasa. Sehingga jika kita punya kesulitan menerjemahkan bahasa Asing, tentu kita bisa meminta bantuan jasa penerjemah yang profesional. Penerjemah akan memberikan service terbaik dengan menghasilkan terjemah yang berkualitas nan bermanfaat untuk berbagai keperluan kita.

Adapun manfaat terjemah untuk kehidupan sehari-hari kita adalah sebagai berikut.

  1. Mengetahui arti/makna bahasa Asing. Adanya terjemahan tentu kita dapat mengetahui arti bahasa asing, entah itu secara lisan atau pun tulisan.
  2. Memperkaya arti kosakata/istilah bahasa Asing. Ketika kita mengetahui arti bahasa Asing maka dengan sendirinya kita sedang memperkaya arti kosa kata bahasa Asing dalam otak kita. Kita juga akan mengingat arti kata-kata bahasa Asing yang sering kita temui dalam sehari-hari. Terjemah juga bermanfaat untuk menambah informasi arti istilah-istilah bahasa Asing di sekitar kita. Sebut saja seperti istilah “no smoking” (Dilarang merokok), “up to date” (modern, terkini), “breaking news” (berita terbaru), dan istilah populer lainnya.
  3. Belajar bahasa Asing. Dengan mengetahui terjemah bahasa Asing secara tidak langsung kita juga sedang belajar bahasa Asing, yaitu mempelajari arti kosakatanya, struktur, maupun cara pengucapannya.
  4. Sebagai bahan perbandingan. Jika kita melihat struktur asli bahasa Asing dan hasil terjemahan ke dalam bahasa Sasaran tentu ada sedikit perbedaan. Entah itu bentuk kata, idiom, frase, susuan (struktur), maupun kedudukan sebuah kata (subjek, predikat, objek, dan keterangan). Perbedaan ini tentu bisa dimanfaatkan sebagai bahan perbandingan antara satu bahasa ke bahasa lainnya. Di kalangan akademis dan peneliti bahasa juga tidak sedikit yang menjadikan perbandingan bahasa untuk dikaji lebih lanjut (studi kontrastif).
  5. Menyerap bahasa asing. Adanya bahasa Asing yang masuk di Indonesia juga menguntungkan para peneliti dan juru bahasa untuk menerjemahkan bahasa Asing ke dalam bahasa Indonesia untuk berbagai keperluan, hingga merumuskan kaidah penyerapan bahasa sebagai bentuk kajian. Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia telah menyerap unsur berbagai bahasa Asing, seperti : Bahasa Arab (khusus, akhir), Bahasa Inggris (account menjadi akun), Bahasa Belanda (komfoor menjadi kompor), Bahasa Yunani (oestrogen menjadi estrogen), dan bahasa lainnya.
  6. Menciptakan Peluang Lapangan Pekerjaan. Terjemah juga bermanfaat untuk membuka lapangan pekerjaan, seperti : penerjemah (translator), penyusun kamus, juru bahasa, guru bahasa Asing, penulis naskah, dan pekerjaan lainnya.
  7. Mengurus berbagai keperluan. Adanya penerjemah juga membatu mengurus berbagai keperluan kita. Misal untuk menerjemahkan tugas kuliah, ijazah, identitas, surat dinas, atau kebutuhan tugas lainnya.
  8. Sarana Menikmati Karya. Tanpa penerjemah kita tidak bakal bisa menikmati novel Harry Potter karya J.K. Rowling dalam bahasa Indonesia. Tanpa penerjemah kita juga tidak bakal paham arti bahasa sebuah film bahasa Asing tanpa ada subtittle-nya. Tanpa penerjemah kita tidak bakal mengerti arti lagu Dido yang berjudul Life For Rent. Maka dari itu, adanya terjemah sangatlah membantu kita untuk menimati karya-karya orang luar yang bahasa Asing, entah itu berbentuk literatur (seperti ; buku, novel, majalah, dan sebagainya) maupun dalam bentuk yang lain (seperti ; aplikasi kamus, adanya subbtile film, website terjemah lagu, dan sebagainya).

Dan manfaat lainnya.

***

 

(Jika perlu jasa penerjemahan dokumen atau untuk keperluan lainnya silakan kunjungi website : https://gp-translator.com)

 

Oleh : Arif Erha

@BimbelGaneshaKnowledge, 22 Maret 2018

 

Tipe-Tipe Teman

 

mengenali-5-ciri-teman-bermuka-dua.jpg

Menurutku ada beberapa tipe-tipe teman dalam hidup.

  1. Teman Kenalan Langsung. Yaitu teman yang kita kenal hasil dari perkenalan langsung, tatap muka, bertemu, tanpa perantara orang lain. Contoh : Teman sekelas, teman sekampus, dan lain-lain.
  2. Temannya Teman. Yaitu teman yang kita kenal hasil dari referensi dari teman kita (melalui perantara orang lain). Mungkin istilah tepatnya adalah ‘dikenalin’. Contoh : kita kenal dia, karena dia adalah temennya teman kita.
  3. Teman Kerja. Yaitu teman yang kita kenal di tempat kerja. Teman tipe ini bisa jadi berasal dari tipe nomer 1 atau nomer 2. Bisa juga memang baru kenal karena baru ketemu di tempat kerja.
  4. Teman Dunia Maya. Yaitu teman yang kita kenal lewat media sosial, entah itu di facebook, twitter, instagram, path, blog, email, atau sosial media lainnya. Sebagian dari teman dunia maya ini adalah tipe teman nomer 1, nomor 2, atau nomor 3. Bisa jadi sudah pernah ketemu (tapi lupa) maupun belum. Sebagian lagi memang baru kenal, lihat foto lewat profil di medsosnya, belum pernah ketemu, tapi bisa saling lewat chatting.
  5. Teman Sehobi atau Se-Passion. Yaitu teman yang biasanya punya kesamaan hobi atau kesukaan dengan kita. Misal sama-sama suka futsal, sama-sama suka sepakbola, sama-sama suka nonton film, sama-sama suka baca novel, sama-sama suka traveling, sama-sama suka ngeblog, dan kesukaan yang sama lainnya. Teman tipe ini bisa berasal dari tipe nomer 1, nomer 2, atau nomer 3. Tapi kadang teman tipe nomer 1 dan nomer 2 bisa kalah dekat (Pertemannya) dengan temen yang punya kesamaan dengan kita. Dengan adanya teman tipe ini kadang kita bakal membuat grup atau berkelompok dengan sendirinya. Misal : teman futsal, teman nonton, teman traveling, teman ngeblog, dll.
  6. Teman Ngobrol/Curhat. Yaitu teman yang biasanya sering kita ajak ngobrol/curhat dalam hal-hal penting dan tertentu. Biasanya sering diajak sharing, diskusi, berpendapat, minta saran, atau ngobrol dalam intensitas yang serius dan bersifat rahasia. Mungkin istilah tepatnya adalah sahabat. Right?
  7. Teman Makan Teman. Yaitu teman yang merebut/merenggut kebahagiaan temennya sendiri. Contoh yang paling sering adalah ketika ada teman yang (tega) menikung atau bahkan merebut gebetan atau kekasih temannya sendiri.
  8. Teman Tapi Mesra. Adalah sebuah judul lagu yang dinyanyikan Ratu (Wulan Jameela dan Maia Estianty) yang diciptakan oleh Ahmad Dhani. Mungkin teman tipe ini tercipta karena adanya teman yang punya hubungan spesial meskipun satu di antara keduanya sudah punya pacar/kekasih.
  9. Teman Tapi Menikah. Nah, kalo yang ini adalah judul film yang dibintangi oleh Adipati Dolken dan Vanesha Prescilla. Film ini terinspirasi dari kisah persahabatan Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion yang tertulis di buku laris karya mereka : #TemanTapiMenikah. Dengan gaya yang santai dan penuh canda, kedua entertainer asal Jakarta ini menceritakan hidup sebagai pasangan harusnya dimulai dari persahabatan, dan pada waktu yang tepat cinta itu akan muncul. Eaaa.

Dan banyak tipe teman lainnya.

(Atau ada yang mau nambahin, tipe teman yang lainnya?)

***

 

Oleh : Arif Erha

@BimbelGaneshaKnowledge, 20 Maret 2018